JOURNEY TO WALIMAH (PART 2)
Penantian Di Mannanti

Sudah lebih dua minggu lalu, gambar ini memenuhi inbox WA teman-teman, cuma satu pengirimnya, lalu dicopas dan dikirim lagi, lagi dan lagi. Undangan dengan visual design bercorak pink ditaburi bunga mawar segar, lambang cinta sejati. Baunya harum semerbak mengelus, warnanya cerah nan menggugah, gambarnya bersirat wangi penuh kasihsayang, mendikte semua rasa yang terpendam lama dalam rangkaian kelopak serta bulir embun yang memeluknya. Namun, disebalik keindahan yang tampak, terserta pula duri di tangkai. Tanda bahwa perasaan ini memang menyakitkan, tapi inilah cinta.

Maka, yang mampu mengambil risiko untuk menikmati keelokan mawar itu, harus rela untuk bertahan dengan rasa perihnya duri. Karena bicara cinta bukan sekedar berbincang rasa senang, aman dan nyaman. Cinta kadang sakit, dan kepedihannya akan terasa lebih dengan berusaha melupakan luka yang timbul. Selalu ada risiko dibalik apa yang kita telah lakukan. Dan, penerimaan kita atas hal itu adalah sikap utama dan sangat penting. Sebab bukan melupakan masalah, tapi bagaimana menerimanya. Bukan tentang melupakan luka, tapi bagaimana memeluknya. Baiklah, sudah cukup pembahasan tentang cinta, semua pujangga lebih mampu menjelaskan daripada kita. Kembali ke laptop.

Akhirnya, ramailah grup dengan pembahasan mengenai acara yang dimaksudkan gambar itu. Sekali Hp di tinggal, ratusan chat masuk bagaikan banjir bandang. Hanya satu topik pembicaraan. Walimah.

Agenda pernikahan yang kesekian kali dari marhalah kami. Akhir-akhir ini, entah mengapa selalu ada kabar “ini mau menikah, itu mau walimah” dan terkagetlah orang-orang,

“ah, masa’...iyakah..”,

“kenapa bisa?”,

“cepat sekali!”,

“diam-diam tapi bah...”

Loh, memang kenapa kalau mau cepat, orang beli kulkas kok kamu yang dingin. Justru kita yang harus intropeksi, seberapa besar persiapan kita untuk menghadapi hal itu. Masih melamun di kamar dan berharap penuh agar tiba-tiba ada orangtua langsung menawarkan putri/putranya. Nda ada yang kayak begitu, di zaman ini pula, semacam itu sangat langka, bahkan hampir punah.

Yang ada adalah bagaimana muhasabah diri, samapai mana kita telah memberbaiki akhlaq. Bukan sibuk dengan post-post, inbox khusus, foto khayalan, dan semacamnya.

Stop berandai-andai dan berhalusinasi (karena nasi juga sudah halus), sebab tak ada yang instan di dunia ini, semua adalah proses, dan takdir adalah ujung dari proses yang kita usahakan.

Stop, kirim pesan yang alay dan mengabarkan tentang dimana posisi kamu pada orang yang belum pasti. Berhenti bertanya tentang jadwal makannya, mengingatkan waktu shalat, toh dia juga masih muslim(ah) pasti tahu kewajiban meski tak diperingatkan. Dri pada terus-terusan berpikr melayang tingkat tinggi, mending langsung ke rumah, ketemu abah, minta restunya, terus walimah, mudah yah teorinya. Hehe

Tapi yang merasa laki-laki emang harus berani, dan mengambil risiko, dengan mengharap ridho Ilahi. Camkan ini! mengikhlaskan, atau menghalalkan.

Dan bagi perempuan, anda seumpama bunga, jangan biarkan orang-orang memetik anda dan membuat kita tak lagi indah. Kitalah lambang keindahan itu. Karena sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholehah. Jangan mau lelah dengan yang tak pasti, padahal ada lelaki yang setia menanti. Jangan letih dengan yang mengumbar janji, tapi siapkan diri untuk dia yang mau sehidup semati, bersedia membersamai hingga ke Jannah Firdaus yang tinggi. Camkan ini! You and Me, END. Atau, Kau dan Aku, KUA. Simple toh.

Seperti kata salah satu teman kami, “ lautan kan kudaki, gunung kan kuseberangi.” Kayak ada lain-lain ya.

Dan acara pernikahan yang akan kami hadiri ini adalah bentuk aplikasi dari teori di atas, pacaran setelah nikah. Menanti dengan sabar. Kalau sudah siap, langsung melangkah. Benar-benar jantan!

Maka, teriring doa menyertai kebahagiaan yang terukir di bawah renda-renda tenda pelaminan, untuk Ustadz dan Ustadzah, inilah akhir dari penantian rindu, selamat mengarungi Bahtera Keberkahan ini. Baarokallohu Laka, Wa Baaroka ‘Alaika, Wa Jama’a Baina Kumaa Fii Khair.

Dan jangan lupa doakan, supaya orang yang menghadiri walimah antum/antunna, tak lagi diundang ke pernikahan, tapi ke depan, dia-nya lagi yang mengundang. Dengan status fenomenal, Sang Mempelai.




perfotoan bersama kedua mempelai


acara Akad Nikah yang diwakili oleh Kementrian Agama


dari jam 03.30 sampai jam 11.00 malam, akhirnya kami tiba, disambut hangat oleh sahabat-sahabat 
yang telah lama menunggu, jazakkumullahu khair wa zawwajakumullah


kebersamaan itu selalu ada manis-manisnya


demi keselamatan, driver dan co-driver kami yang handal
memakai helm dan sabuk keselamatan



foto sambil mengemudikan mobil, jangan dicontoh hehe (it's not true)

5 power ranger pembela ke-shohihan


Selamat mengarungi Bahtera Rumah Tangga
teruntuk guru kami, Ust. Dzulfadli dan sahabat kami Sumarni





Post a Comment

Previous Post Next Post