Cinta
itu,,kata yang tak mudah,
sulit
menemukan kosakata untuk menjelaskan pada dunia yang menuding para pecinta
sebagai orang yang gila,,, yah…
Mereka saja
yang belum terjangkit,
saat virus itu menyerang, maka cinta akan
mengendalikan diri yang tak bisa menguasai perasaan itu, dan yang menuduh pun tahu
bahwa rasa suka mengaburkan pikiran hingga titik kesadaran berubah menjadi
kegilaan.
Kisah tragis
Laila dan Majnun rasanya cukup sebagai bukti, bagi para pelaku yang
dikendalikan, bukan mengendalikan
Ada yang
tersakiti, maka kita bisa menyebut cinta sebagai duri
Ada yang
tersenyum manis, kita dapat memanggilnya perasaan gulali
Ada yang
marah, kita boleh menamainya sebuah emosi
Cinta
Dalam diri
banyak orang memiliki persepsi yang berbeda-beda, tergantung bagaimana
menyikapinya.
Cinta dalam
diam, ada..
Cinta
terang-terangan, ada..
Cinta
segitiga, ada…
Cinta
brontosaurus pun, ada..
Namun kali
ini, kita bercakap tentang cinta bisu, yang hanya bersuara saat mempelai dan
wali saling menjabat tangan mengucap ikrar janji sejati, meminang bidadari.
Saat itu,
semua keraguan tentang harapan manis akan runtuh
Sumpah
berat, menjadi satu ketegasan, bahwa cinta…
Bukanlah
yang cuma manis di mulut, tapi pahit dalam perlakuan
Bukan yang
hanya berupa janji menggunung, tapi perbuatan segunduk pun tak kelihatan
Tak ada
jalan keluar lain bagi dua orang yang saling mencintai kecuali dengan menikah…
Mari untuk
menahan diri untuk mencicipi bumbu, akan lebih baik menikmati sup beserta
rasanya…
Pacaran akan
membuatnya terasa hambar saat menikah, bumbunya lebih duluan ditelan daripada
sup cintanya
Mari
bersabar,
Sabar kadang
pahit,
Tapi yakinlah
ujungnya manis
Dan manisnya
sebuah kesabaran tertuang dalam secarik undangan pengharapan
Terpatri
dalam ijab qobul yang terucap
Terbingkai
oleh bersandingnya mempelai di bawah tenda penuh hiasan
Saat itu,
Hanya senyum
yang mampu menjelaskan
Salah satu
saat terindah sejak dia dilahirkan,
Bertemu
dengan jodohnya
Terlebih saat
dia bertemu dengan Rabbnya..

Post a Comment