Malam itu, hp
seluruh anggota Ikhtiyar dan Iftiyah yang berdomisili di Makassar berdering. Semua
panggilan itu berasal dari satu orang saja, ininsial ( i ) yang kali ini
diserahi amanat sebagai “ Panitia Pemberangkatan Jamaah”
Rencananya adalah
check in di Makassar lalu bertolak ke Takalar, tepatnya di desa Tamasaju,
sebuah rumah yang akrab dikalangan kami yang sering liburan ke Makassar,
Takalar, Gowa, dan sejenisnya. Agenda kami adalah kumpul-kumpul.
Maka, panitia
pemberangkatan menjadwalkan pada jam 2 agar semuanya berada di titik yang telah
ditentukan sehingga pada jam 3 bisa segera berangkat. Tapi, entah, gak ada
angin, tapi ada hujan...pemberangkatannya molor satu jam dari jadwal yang
ditetapkan, panitia yang sebenarnya cuman satu orang itu akhirnya sibuk
menempelkan hp-nya ke telinga, menelpon...mengecek, memastikan dan memarahi
(namun, marah di sini adalah marah tanda sayang) agar semuanya sudah harus
benar-benar siap untuk berangkat, karena kami takut dengan makhluk yang bernama
macet, makhluk ini menyesakkan pernapasan, membuat dahi berkerutan, ribut tak
ada yang bisa mendiamkan, bising tak ada yang bisa menenangkan.
Akhirnya, jam 4
lebih bermenit-menit, kami berangkat. Dipersenjatai dengan 6 motor beroda dua
dari berbagai merk luar negri dan 1 buah mobil yang beroda empat berwarna putih
bernama Fresto yang lahir dari rahim Ford.
Namun, apa mau
dikata, makhluk menyeramkan yang menghantui setiap pengguna jalan apalagi di
Makassar itu berhasil menangkap kami. Kami terjebak bersama kendaraan-kendaraan
lain yang kali ini sibuk bersuara bising mengklakson. Maka, jadilah...dalam
cengkeraman monster macet itu sebuah paduan musik yang tidak teratur dan
hambur. Dan itu terjadi mulai dari Jln. Sultan Alauddin sampai Jembatan Kembar
yang wajahnya mirip tapi serupa namun sama. (???)
Waktu menunjuk
maghrib untuk segera tampil di langit, memamerkan warna kuning keemasannya yang
menyihir setiap orang...kecuali kami yang tidak sempat tersihir karena sibuk
mencari celah-celah kosong di antara himpitan kendaraan yang berjejalan saling
merangsek maju seakan-akan di depan ada pembagian sembako gratis terbatas.
Setelah berpeluh
keringat, berbasah hujan, berletih penat, tapi asyik, cerita perjalanan itu
berakhir jam 08.00 saat magrib turun dari panggung langit digantikan oleh
malam.
###
Pagi-pagi, sinar
mentari bersinar terang, tapi tidak masuk di kamar kami karena jendelanya
tertutup. Pun, kokokan ayam jantan tidak terdengar seperti biasanya, kendaraan
masih lenggang.
Pagi-pagi, kami
deretkan motor di depan rumah. Pagi-pagi, berarti cuci-cuci. Perjalanan melelahkan
tadi malam menyisakan jejak kotoran dari tanah becek bekas hujan dan lubang
berkubang yang berserakan di jalan.
Agenda kami pagi
ini, kata panitia...REFRESHINGGG
Dan pantai
Galesong yang berada tidak jauh dari markas kami menjadi pilihan. Setelah semuanya
makan dan berkemas, akhirnya kami berangkat...
Dan singkat
cerita, kami sampai dan...inilah Galesong itu!





Post a Comment