Euforia 212 kemarin masih terasa hingga saat ini, aksi yang melibatkan umat dari
berbagai lapisan masyarakat itu menjadi saksi sejarah, dengan diikuti 26 ormas
Islam berjumlah 3 juta orang lebih turun ke jalan, monarki yang tumbang
bertahun-tahun telah mengubah wajah pemerintahan. Demokrasi menjadi pilihan,
mengapresiasi rakyat dari usulan dan masukan. Semua orang bebas berekspresi dan
menyuarakan. Tapi, kali ini kita tak akan bicara hal itu, kita tak akan
membahas akibat dari aksi hebat ini yang semakin menyudutkan terdakwa, kita
akan berkisah kebahagiaan besar, hasil berujung indah dari proses panjang penuh
cerita.
Cinta memang perlu diperjuangkan, karena cinta adalah
sesuatu yang suci, perkara mulia yang dengannya girah seseorang menjadi
bersemangat. Ia-nya pun bukan dosa, karena di dalamnya adalah kasih sayang
disandingkan dengan rasa ingin melindungi, kelembutan hati dan perasaan ingin
memiliki dan melindungi.
Namun, terkadang cinta menjadi sesuatu yang sia-sia mana
kala proses menjalani dan memperjuangkannya ternoda dosa, apalah arti kasih
sayang jika menjadi sia, apalah arti kelembutan kepada ciptaan yang justru
membuat cemburu penciptanya. Sapaan kita lebih sering beralamat pada dia
daripada Dia, perhatian kita lebih tertuju padanya dari pada-Nya. Rindu kita
lebih kepada makhluk daripada kholiqnya.
Cinta perlu diperjuangkan…
Dalam garis suci, dan tuntunan petunjuk Ilahi, serta sunnah dari nabi-Nya. Karena apa yang dijalani
dalam ketaatan akan sampai pada ketentuan Allah Yang Ia ridhoi. Allah tidak
akan memberi hamba-Nya sesuatu yang akan ia sesali, tersebab ketaatan dalam
kesabaran mencintai, dan kesucian cinta yang ia jalani, serta kesabaran atas
syariat yang tidak ia ingkari, menjadikan Allah mencintainya lebih dan
mengaruniakan ia pendamping dari hamba-hamba-Nya yang shalih, yang sangat
mencintai-Nya seperti pula ia mencintai Rabbnya.
Hari ini pembuktian cinta suci itu…
Sebuah gedung telah disulap menjadi aula pernikahan. Hiasan
bunga dan kembang membuat syahdu mata yang memandang, jejeran kursi tamu
tersusun membentuk barisan rapi memanjang, berbagai macam aneka warna
disuguhkan, minuman manis aneka rasa dihidangkan. Makanan lezat menggugah
lambung manusia seperti anak kos memenuhi meja panjang yang berada di samping
hijab pembatas tamu undangan, pemisah antara tamu laki-laki dan perempuan. Wajah-wajah
berseri senang, senyum-senyum mengembang , doa-doa terucap, sesekali ditimpali
tawa bahagia dari percakapan ringan, rencana-rencana diperbincangkan, muka
sumringah hadirin sudah cukup menjelaskan, pernikahan ini sungguh membahagiakan.
Lihatlah sekarang, kedua mempelai keringatan, tangan mereka
menyalami tamu, teman dan kenalan yang silih berganti berdatangan, doa-doa
kebahagiaan terharapkan, terbisik pelan, terdengar lembut dan menenangkan.
Hari ini untuk kedua mempelai, bukan tentang cerita memendam
rasa lagi, tapi mengungkapkannya. Bukan tentang berjalan sendiri, tapi bersama
saling beriringan, bukan tentang rindu yang tertahan dalam doa, tapi luapan
kata yang kini ada yang mendengarnya. bukan tentang berjuang sendiri, tapi
berdua kita bergandengan tangan menuju surga ilahi. Allahu akbar
212, tanggal bersejarah itu sekaligus waktu dari kesepakatan
kami untuk memulai perjalanan, mendung menutup hamparan langit, menyimpan
berkubik air yang kapan saja bisa tumpah ruah menghujani permukaan. Deru angin
terdengar, mendesau-desau mengiringi dinginnya suasana saat itu. Pelan tapi
pasti, bertitik-titik hujan akhirnya menggerimis, tidak deras dan tidak keras. Seakan
tercurah menyegarkan peserta, aksi bela Qur’an mereka hari itu tentu saja
menyisakan lelah. Hujan itu turun, bertepatan setelah aksi itu berakhir, seakan
telah membuat perjanjian dengan langit saat itu.
Hujan itu meneguhkan langkah kaki, menenangkan hati,
memberikan rasa damai seperti hujan Badr, turun disaat menegangkan, sebab musuh
berkali lipat jumlahnya dari mereka menuggu di depan, menghadang dengan senjata
lengkap berperisai kuat.
dan Allah menurunkan kepadamu hujan
dari langit untuk membersihkanmu. Karena dengan air hujan itu, Allah Swt.
menghilangkan gangguan syetan darimu dan menguatkan hatimu serta memperteguh
kedudukanmu.” (Q.S.Al Anfal:11)
####
pukul 15…entah di menit yang keberapa, hp-ku berdering,
terdengar samar dihimpitan hiruk pikuk orang lalu lalang. Sejak tadi, langit
bergerimis memaksaku membungkus hp trend dan termahal era 80-an dengan
kantong kresek putih sisa konsumsi aksi. Dengan kacamata berembun dan kresek
yang membuat samar menjadi siksaan tersendiri bagiku melihat layar hp yang
bergetar mengedip-ngedip. Butuh waktu lama tuk sekedar memastikan nama si
penelpon, dan benar saja….Wandi, ‘ pengantar ‘ terhebat kami yang baru
beroperasi mengantar kami ke event wedding marhalah (angkatan).
Posturnya tegap, berpandangan jauh ke depan, kekuatan tak
usah dipertanyakan, menghafal di luar kepala semua arah jalan,dan menjadi lengkap
dengan mempunyai hati yang lembut dan tenang, komposisi sempurna untuk membantu
‘ mengantar diri kami’ menuju tujuan.
“dimana antum ?” pertanyaan itu segera meluncur
cepat. Tidak seperti biasanya…
“masih di Karebosi, akh…” jawabku.
“oh iya…jadi nanti antum ke Al-Markaz ya…ada Irwan
yang nunggu di sana” lanjutnya. Memberikan penjelasan, aku harus ketemu Irwan
lalu sama-sama ke titik pertemuan. Pembicaraan berakhir setelah beberapa kata.
Langit masih belum berdamai, kebingungan antara larangan
meninggalkan rombongan aksi atau menuju Al-Markaz. ‘Penunggu ‘ sudah berjam-jam
dalam penantian tanpa kepastian kapan daku kan datang ( sok puitisJ)
####
Hp-ku berdering lagi, bergetar mendesak di saku jaketku yang
basah. Dan lagi…nama itu tertulis dari susunan pixel hp 3-ji itu, sekali
lagi aku memuji teknologi masa lampau.
“dimanami antum?” nadanya berubah, kedudukan imbuhan ‘mi’
di akhir kata menunjukkan pengharapan agar jawaban atas pertanyaan yang
diajukan sesuai harapan. Sayang sekali, jawabanku mungkin akan menyalahi hukum
itu.
“masih di Karebosika” suaraku tertahan, menyandingkan
imbuhan akhiran ‘mi’-nya dengan ‘ka’-ku
“kenapa masih di anu? Ke Markaz mi cepat nah…dari tadiki
nunggu itu Irwan, lobet tommi hp-na” terangnya, tegas…
####
Percakapan itu berakhir cepat, mungkin dia dalam perjalanan.
Kucerna setiap kalimatnya. Lalu ku beri bold pada kata tidak lazim.
”kenapa masih di anu? Ke Markaz mi cepat nah…dari
tadiki nunggu itu Irwan, lobet tommi hp-nya”.
Jelas sekali maksud katanya benar-benar mendesak, terbukti
dari kontaminasi beberapa kata yang menghancurkan kefasihan bahasa Indonesia,
yang guru SD-nya setengah mati menjelaskan pentingnya berbahasa Indonesia yang
benar dan sesuai kaidah. Mungkin saja, bahasa asli daerah keluar tiba-tiba saat
seseorang sedang dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk bahagia,
mungkinkah?
Sedang rombongan mulai beranjak, Karebosi saat itu masih
ramai, bendera-bendera berkibar memenuhi lapangan. Bergegas kupercepat langkah,
memastikan bahwa jalan pulang rombongan adalah menuju Al-Markaz. Hari ini
benar-benar sibuk.
####
Pelan tapi pasti, gerimis itu membesar, menjadi
tetesan-tetesan, jatuh cepat membasahi bumi. Jalanan macet, tak peduli hujan,
macet sudah dan akan menjadi rutinitas pengendara di sepanjang jalan ini. Aspal
terlihat lebih ‘segar’. Di sana sini, air membentuk genangan besar, kadang
cipratan karena lindasan ban mobil harus membuat sabar. Seperti itulah
pemandangan yang terlihat dari luar jendela berembun mobil ini ( Iswandi
mencarter Avanza putih ber’tato’ naga merah
di kaca belakang).
Namun, siapa peduli, seisi mobil yang berjumlah 9 orang
terhanyut kesibukan masing-masing. Sibuk nelpon, sibuk main game, sibuk berlike
dan bercomment, ada juga yang sibuk pusing…tersandar di jendela dengan
kepala pening, meminta dibelikan jus melon panas (lho?). Di kursi depan, ada sedikit kehidupan, sibuk
bercerita perjuangannya menunggu berjam-jam dan mencariku di Al-Markaz. Apesnya,
justru dia pergi saat aku sudah tiba. Jadilah aku berkeliling, gantian mencari
dan menunggu. Tapi, sudahlah, cerita panjang itu justru akan mengganggu
istirahat. Besok adalah kebahagiaan saudara saudari kami, dan alangkah lebih
baik menyimpan kekuatan untuk menyambut kebahagiaan besar itu…







Post a Comment