Waktu di
saat-saat yang sempit selalu berjalan perlahan, menyipit barisan hingga kita
tenggelam. Dulu, kelapangan adalah keniscayaan, terasa tidak perlu tuk
disyukuri karena sudah menjadi hal wajar dan memang telah ditakdirkan untuk
dikaruniakan kepada kita... namun, perasaan akan berteriak ketika kelapangan
itu menjelma menjadi kesempitan, saat itulah tangan-tangan terjatuh terangkat
menengadah, saat itu mulut terbungkam mengucap doa, saat itu, hati terlena
mulai menyusun rasa, maka kesadaran perlahan terbit…pintu taubat itulah
akhirnya.
Rentetan
perjalanan hidup memang tidak selalunya diratapi, apa yang telah terjadi
harusnya tidak terus ditangisi, maka cukuplah melihat spion masa lalu sekali,
mengambil hikmah dari apa yang terjadi, memaknai kejadian dengan penuh arti,
lalu berubahlah…! Change…! Dari yang tergenang dosa lalu mulai berenang ke
ketinggian telaga taubah, dari tenggelam dalam maksiat, lalu berusaha tuk
kembali ke permukaan ketaatan.
Maka,
musibah menjadi bahan evaluasi, menilai diri, menyadarkan hati, inilah
kesalahanmu! Inilah khilafmu! Inilah dosamu!
Sadarlah
atas musibah itu, karena orang muslim akan segera mengetahui bahwa itu adalah
teguran, seperti nabi Yunus, pergi karena kaumnya keras kepala dan tidak mau
dinasehati. Maka, seorang dari kaumnya berkata memperingati “ duhai celakalah
kalian ini, jikalau benar dia adalah nabi, kalian akan ditimpakan azab yang
pedih, karena kalian tidak mendengarkan sampai dia marah dan pergi”
Maka mereka
menyadari, segera bertaubat menginsafi diri. Namun, nabi Yunus sudah jauh tak
dapat disusul tuk diajak kembali, tergaris ketentuan Ilahi, saat nabi Yunus
terkena undian dan harus dilemparkan dari kapal yang ditumpangi, tersebab berat
dan banyaknya penumpang dan harus segera dikurangi. Tergaris takdir Ilahi, oleh
ikan sangat besar dia ditelan, berada sangat lama dalam perut ikan. Allah masih
bekenan, menitahkan agar beliau tidak di makan, jadilah dia dalam berlapis
kegelapan…
Seorang mu’min
akan segera menyadari, kesalahannya adalah lari dari tugas Allah, berdakwah. Beliau
khilaf dari ketidaksabaran dalam menghadapi kaumnya. Jadilah, lisannya terus
beristigfar, bertaubat,…memohon ampun.
Insaflah saat
musibah menimpa kita, segera mengevaluasi diri, karena akibat pasti bermuara
pada sebab.
Maka,
marilah peka, peka terhadap teguran Allah, jangan menuntut apalagi mengutuk,
tersebab dirimu hingga kamu terazab…tersebab perbuatan hingga kita dikirimkan
teguran yang mungkin pula berupa kemarahan alam…banjir, gunung meletus, tanah
longsor, kebakaran…bukankah semuanya dari kita yang akibatnya akan bermuara
pada kita juga?
Padahal bersekolah
SD kemarin, jauh-jauh hari kita terperingati, pelajaran sosial dan pengetahuan
alam terajarkan oleh guru kita dengan baik, terjelaskan dari sebab hingga
akibatnya. Sayang, pengetahuan itu hanya mengendap di seragam merah putih, tak
sampai pelajaran itu ke titel sarjana,magister, yang berjas maupun berdasi…
Sadari diri,
lekas berbenah, segera taubat, gerbangnya terus terbuka lebar, sebelum ia
tertutup sakaratul maut, saat kalimat istigfar dan taubat tak lagi diterima,
mari segera berubah…sadari dosa yang telah diperbuat. Allah masih berkenan
memperingati di dunia dengan sedikit pukulan. Lebih mendingan dari
mereka yang terus dalam nikmat yang banyak dari harta dan kedudukan, tapi tanpa
teguran, maka kelak mereka merasakan kekekalan siksa sebagai ganti dari
kejayaannya di dunia. Mari berubah! Change…!


Post a Comment