Hp-ku berkedip-kedip kemudian bergetar, seiring dengan dering nada pesan masuk. Yah, tidak biasanya, sore begini, lalu lintas pesan grup kadang sepi. Ada satu dua yang masuk tapi hanya dari operator telepon, membosankan. kalau ada yang tahu cara memblokir pesan seperti itu...tolong informasikan...hmm, dikirami dari dia (teman) ternyata dari dia (si operator ).
Setelah memasukkan sandi rumit bin sulit ...pesan masuk itu terbuka, dari grup madani...ok. whats up?
Setelah membaca pesan sekilas, tanpa tanda baca tepat apalagi sesuai kaidah EYD, jangan harap. Sebenarnya, short message service punya sesuatu yang luar biasa. Kita bisa membaca meski semua kalimatnya tersusun dari rangkain huruf-huruf mati, abjad “a, i, u, e, o “ tak laku.
“nya” punah diganti “x”. Contohnya saja, Coba baca ini : anux.
Anak TK saja pasti baca anuks.
Tapi, lain lagi sms.
Baca : Anunya.
Singkat, padat, dan merusak.
Tapi, sudahlah. Yang penting isinya. Hari yang ditetapkan adalah sabtu malam, dan perlu kekuatan untuk mendukung agenda tersebut. maka malam ini kami harus tidur.
***
Meski tak ada palu diketuk, atau alarm pengingat waktu, rasanya perkumpulan dua jam ini sudah cukup. Setelah mencapai kesepakatan tentang agenda kegiatan tahun ini untuk pondok. Tepat sekali memilih sabtu malam sebagai waktu perkumpulan angkatan yang berdomisili di Makassar. Libur pekanan anak kuliah apalagi sebagian telah mengambil cuti habis final, menambah serasi dan tepatnya acara diselenggarakan malam itu. Dari jauhnya raga dan DH, rindu ingin bertemu sangat menggebu. Begitulah, setelah berpisah, baru terasa...kebersamaan itu indah.
***
Rutinitas kuliah dan kesibukan padat membuat lupa berehat, meski sejenak. Kembali bertemu dengan saudara di pondok, walaupun itu sehari, tidak lengkap rasanya kalau tidak cerita. Apapun itu...semuanya kelihatan penting untuk di bincangkan. Sama seperti malam ini, sambil bermain game klasik, canda tawa sesekali terdengar, menyelingi pembahasan hangat yang lari-lari topik pembicaraannya. Dari awal, kami memang sudah niat begadang, selain karena suka nongkrong, kami juga menunggu jam 3. Tiba-tiba angka 3 itu begitu penting bagi sahabat kami yang juga berjumlah 3. Mereka akan check in dari bandara Sultan Hasanuddin bertolak ke Kalimantan, baru saja izin cuti mereka cair dengan jatah sebulan. Olehnya, harus ada yang menunggu unuk menjaga-jaga sekaligus membangunkan, lewat dari jadwal yang ditetapkan, maka good bye, tak mungkin pesawat akan menunggu hanya karena penumpangnya terlambat. Toh, uang tiket sudah di bayar, biar pun gak ada yang naik, fine-fine saja bagi maskapai. Jadilah, kami menjaga malam bersama bulan. Entah, bintang kemana, tertutup awan gelap, cumulonimbus.
***
Awan shubuh bergerak, berarak sejalan dengan laju motor kami yaitu 1 revo dan 5 matic. Singkat cerita, kami yang berjumlah belasan orang akhirnya tiba di bandara. Se-shubuh ini, kendaraan berjejalan di pelataran parkir. Bus-bus besar “om telolet om” antri menurunkan penumpang. Herannya, saat membunyikan klakson, tidak ada yang heboh...tidak ada sepotong orang pun mengacungkan hp merekam bunyi aneh itu. Dalam hati tersenyum lega, bandara adalah area bebas ber-telolet sesuai kehendak sopir. Di sudut lain, pramugari-pramugari turun dari mobil maskapai, berseragam rapi, sepagi buta mereka telah bersiap diri, seperti siapnya teman kami. Jadwal penerbangan sudah tiba, setelah bersalaman dan menitip pesan, mereka melangkah masuk ke tempat khusus pasengger, yang pengantar tidak boleh masuk. Yah, selamat tinggal, dan jangan pernah lupa untuk kembali karena kami merindukan oleh-oleh amplang mu, haha.





2 Comments

Post a Comment

Previous Post Next Post